Jumat, 06 Juli 2012

KEDUDUKAN AKHLAK DALAM ISLAM (HUBUNGANNYA DENGAN IMAN, ISLAM DAN IHSAN)


I.     PENDAHULUAN
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan batinnya. Sebaliknya, apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir dan batinnya. Kejayaaan seseorang terletak pada akhlaknya yang baik, akhlak yang baik selalu membuat seseorang menjadi aman, tenang dan tidak adanya perbuatan yang tercela.
Agama merupakan tujuan yang lurus (shirathal mustaqim) menuju tempat kebahagiaan, menuju tujuan manusia di dunia dan di akhirat. Iman, Islam dan Ihsan merupakan tiga unsur yang berjalin, berakhlak mulia sebagai isi ajaran Rasulullah, menjalani agama (ibadah dan amal shaleh) dengan cara yang ihsan merupakan kewajiban.[1]
Untuk itu, dalam pembahasan berikut ini akan dibahas mengenai pengertian Iman, Islam dan Ihsan serta hubungan antara akhlak dengan Iman, Islam dan Ihsan.  
 
II.  RUMUSAN MASALAH
A.     Apakah Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan?
B.     Bagaimanakah Hubungan antara Akhlak dengan Iman, Islam dan Ihsan ?

III.   PEMBAHASAN
A.  Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan
Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan  oleh Muslim dari Abdullah bin Umar diceritakan bahwa pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW, yang kemudian ternyata orang itu adalah malaikat Jibril, menanyakan tentang arti Iman, Islam dan Ihsan. Dan dalam dialog antara Rasulullah SAW dengan malaikat Jibril itu, Rasulullah SAW memberikan pengertian tentang Iman, Islam dan Ihsan tersebut sebagai berikut:
اَلْآيْمَانُ : اَنْ تُؤْمِنَ بِااللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَ كُتُبِهِ وَ رُسُوْلِهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِخَيْرِهِ وَشَرِّهِ
اَلْاِسْلَامُ : اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ وَ تُقِيْمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ تَخُجَّ الْبَيْتَ اِنِ ا سْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا
اَلْاِحْسَانُ  : اَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ
Iman : Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhirat seerta engkau beriman kepada kadar (ketentuan Tuhan) baik dan buruk.
Islam : Engkau menyaksikan bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, engkau  mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, p uasa Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah jika engkau mampu pergi kesana.
Ihsan : Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, tetapi jika engkau tidak meluhat-Nya yakinlah bahwa Dia selalu melihat engkau.[2]
Jika dilihat lebih jauh tentang pengertian Iman, Islam dan Ihsan baik dilihat dari sudut etimologi maupun terminologi dapat diperoleh beberapa penjelasan sebagai berikut:
a.    Iman
Kata Iman (bahasa arab) adalah bentuk masdardari kata kerja (fi’il)
اَمَنَ , يُؤْمِنُ , اِيْمَاناً
Dalam bahasa Indonesia kata Iman biasanya diartikan dengan kepercayaan atau keyakinan.
Dilihat dari pengertian istilah, Iman itu paling tidak mengharuskan adanya pembenaran keyakinan akan adanya Tuhan dengan segala keesaan-Nya dan segala sifat kesempurnaan-Nya serta pembenaran dan keyakinan terhadap Muhammad Rasulullah dan risalah kerasulan yang ia bawa.[3]
b.    Islam
Dilihat dari asal katanya, Islam (bahasa arab) adalah bentuk masdar dari kata kerja (fi’il) :
اَسْلَمَ ، يُسْلِمُ ، اِسْلاَ مًا
Di dalam Da’irah al-Ma’arif al-Islamiyah dikatakan :
اَلْاِسْلَامُ ، اَلْخُضُوْعُ وَالْاِسْتِسْلَامُ
“Islam berarti tunduk dan menyerah/penyerahan diri”.
Dilihat dari istilah Islam ialah tunduk dan taat, yakni tunduk dan taat  kepada perintah Allah dan kepada larangan-Nya. Perintah dan larangan itu tertuang dalam ajaran Islam, oleh karena itu hanya mereka yang tunduk dan taat kepada ajaran Islam yang akan mendapat keselamatan dan kedamaian hidup di dunia dan akhirat.
Sebagai agama, Islam merupakan kepasrahan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Ajaran agama Islam memerintahkan taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
c.    Ihsan
Kata Ihsan (bahasa arab) berasal dari kata kerja (fi’il)
 اَحْسَنَ ، يُحْسِنُ ، اِحْسَانًا artinya فِعْلُ اَلْحَسَنِ (perbuatan baik).
K.H. Moenawar Chalil  mengatakan, Ihsan  ialah “berbuat baik atau perbuatan baik”. Asfahani, sebagaimana dikutip oleh Moenawar Chalil, mengatakan bahwa Ihsan  itu dapat diartikan dalam dua arti, yaitu:
1.    Memberi kenikmatan (kebaikan) kepada orang lain.
2.    Mengetahui dengan baik akan sesuatu pengetahuan dan mengerjakan dengan baik akan sesuatu pekerjaan.
Jadi Ihsan  dapat dikatakan sebagai puncak kesempurnaan dari Iman dan Islam. Orang yang telah sempurna keimanan dan keislamannya akan mencapai suatu keadaan dimana ia dapat melakukan ibadah kepada Allah seakan-akan melihat Allahdan bila tidak dapat demikian, ia akan selalu diawasi oleh Allah. Ihsan dapat menimbulkan amal saleh dan menjauhkan orang dari perbuatan-perbuatan buruk. Imam al-Nawawi menegaskan bahwa ihsan itu merupakan jawami’ul kalim, yaitu suatu ungkapan yang mencakup tujuan dari hakikat Iman dan Islam.

B.     Hubungan Akhlak dengan Iman, Islam dan Ihsan
1.      Hubungan Akhlak dengan Iman
Iman ialah mengetahui dan meyakini akan keesaan Tuhan, mempercayai adanya malaikat, mengimani adanya kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada qada dan qadar. Untuk rukun iman yang pertama bahwa mengetahui dan meyakini akan keesaan Allah dengan mempercayai bahwa Allah memiliki sifat-sifat ynag mulia. Untuk itu manusia hendaknya meniru sifat-sifat Tuhan itu, yakni Allah SWT. Misalnya bersifat Al-Rahman dan Al-Rahim (Maha pengasih dan Maha Penyayang), maka sebaiknya manusia meniru sifat tersebut dengan mengembangkan sikap kasih sayang di muka bumi. Demikian juga jika Allah bersifat dengan Asma’ul Husna itu harus dipraktekkan dalam kehidupan. Dengan cara demikian iman kepada Allah akan memberi pengaruh terhadap pembentukan akhlak yang mulia.[4]
Demikian juga jika seseorang beriman kepada para malaikat, maka yang dimaksudkan antara lain adalah agar manusia meniru sift-sifat yang terdapat pada malaikat, seperti sifat jujur, amanah, tidak pernah durhaka dan patuh melaksanakan segala yang diperintahkan Tuhan. Hal ini juga dimaksudkan agar manusia merasa diperhatikan dan diawasi oleh para malaikat, sehingga ia tidak berani melanggar larangan Tuhan.
Demikian pula beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Tuhan , khususnya Al-Qur’an, maka dengan mengikuti segala perintah yang ada dalam Al-Qur’an dan menjauhi apa yang dilarangnya. Dengan kata lain beriman kepada kitab-kitab, khususnya Al-Qur’an harus disertai dengan berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an seperti halnya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya beriman kepada para rasul, khususnya kepada Nabi Muhammad SAW. juga harus disertai upaya mencontoh akhlak Rasulullah di dalam Al-Qur’an dinyatakan oleh Allah bahwa nabi Muhammad SAW itu berakhlak mulia.
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)
Artinya: “seseungguhnya engkau Muhammad benar-benar berbudi pekerti mulia.” (Q. S. Al-Qalam: 4)

Demikian pula beriman kepada hari akhir, dari sisi akhlaki harus disertai dengan upaya menyadari bahwa segala amal perbuatan yang dilkaukan selama di dunia ini akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Amal perbuatan manusia selama di dunia akan ditimbang dan dihitungb serta diputuskan dengan seadilnya. Mereka yang amalnya lebih banyak yang buruk dan ingkar kepada Tuhan akan dimasukkan ke dalam neraka, sedangkan mereka yang amalnya lebih banyak yang biak akan dimasukkan ke dalam syurga. Hal tersebut diharapkan dapat memotivasi seseorang agar selama hidupnya di dunia ini banyak melakukan amal yang baik, menjauhi perbuatan dosa dan ingkar kepada Allah.
Selanjtnya beriman kepada qada dan qadar juga erat kaitannya dengan akhlak, yaitu agar orang yang percaya kepada qada dan qadar itu seanantiasa mau bersyukur terhadap keputusan Tuhan dan rela menerima segala keputusan-Nya. Perbuatan demikian termasuk ke dalam akhlak yang mulia.[5]
             
2.      Hubungan Akhlak dengan Islam
Dalam keseluruhan ajaran Islam akhlak menempati kedudukan yang sangat penting. Hal itu dapat dilihat dalam beberapa hal berikut: 
a.     Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul dengan maksud utama untuk membina dan  menyempurnakan akhlak, sebagaimana dinyatakan dalam hadits,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ (رواه أحمد)
Artinya: “bahwasanya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak (Budi pekerti)” (HR. Ahmad)
Tugas nabi yang digariskan dalam sejarah hidupnya cukup menarik simpati manusia untuk mengikuti dan melaksanakan ajaran-ajaran risalahnya. Karena Risalah yang diajarkan nabi Muhammad memberikan informasi tentang faktor-faktor keutamaan akhlak, lengkap dengan penjelasan aspek-aspeknya.[6]
b.      Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam, sehingga Rasulullah pernah mendefinisikan agama itu dengan akhlak yang baik. Pendefinisian agama Islam dengan akhlak yang baik itu sebanding dengan pendefinisian ibadah haji dengan wuquf di Arafah. Rasulullah saw pernah menyebutkan,“Haji adalah Wukuf di Arafah.” Artinya tidak sah haji seseorang tanpa wukuf di Arafah.
c.       Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda:

مَامِنْ شَىْئٍ أَثْقَلُ فِى مِيْزَانِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ ...
(رواه الترمذى)

Artinya: ”Tidak ada satupun yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik.”

d.      Rasulullah menjadikan baik buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
e.       Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT. Misalnya: shalat, puasa, zakat dan haji.
1)        Allah memerintahkan solat wajib, sekaligus Allah menerangkan Hikmahnya.
Firman Allah :        
وَاَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةِ  تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ (العنكبوت: ٤٥)
Artinya : “...dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar,”
Membersihkan jiwa dari perbuatan keji yang membawa kehinaan dan mensucikan diri dari perkataan buruk adalah hakikat shalat.
2)        Mengenai ibadah zakat pada hakikatnya bukan merupakan pajak yang diambil dari kantong, tetapi merupakan pembinaan, menanamkan rasa kasih sayang yang tulus dan mendekatkan hubungan ukhuwwah yang baik di antara lapisan masyarakat. Di samping itu ia juga membantu menghilangkan sikap dengki dan permusuhan dari dada kalangan fakir miskin terhadap saudara-saudara mereka yang berpunya. Hal ini lebih berlanjut berimplikasi pada minimnya kasus tindak pencurian dan berbagai jenis tindak kriminal lain ynag meresahkan masyarakat.[7]
3)        Begitu juga Islam mengajarkan ibadah puasa, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman dalam waktu yang terbatas, tetapi lebih dari itu merupakan latihan menahan diri dari keinginan melakukan perbuatan keji yang dilarang. Kita yakin bahwai badah puasa pasti mengandung manfaat bagi manusia, kita juga menyadari bahwa manfaat puasa akan dapat dilihat dari segi kesehatan maupun dalam pembentukan sikap kepribadian. Tegasnya dari segi manapun ibadah puasa mampu memberikan kemanfaatan yang nyata.
4)        Menunaikan ibadah haji ke tanah suci yang diperintahkan kepada orang-orang yang mampu merupakan pelengkap ibadah dari rukun Islam kelima. Kewajiban ini wajib ditunaikan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan hati, sebagai perwujudan iman dan taqwanya kepada Allah dan Rasul-Nya.[8]
Demikianlah garis besar ketentuan-ketentuan ibadah dalam Islam yang dituangkan dalam rukun Islam yang erat hubungannya dengan pembinaan akhlak.[9]
f.        Nabi Muhammad SAW selalu berdo’a agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau.
g.       Di dalam Al-qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak.[10]
3.      Hubungan Akhlak dengan Ihsan
Ihsan dalam arti akhlak mulia atau pendidikan akhlak mulia sebagai puncak keagamaan dapat dipahami dari beberapa hadits terkenal seperti “sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti baik”.
      Ihsan secara lahiriyah melaksanakan amal kebaikan. Ihsan dalam bentuk lahiriyah ini, jika dilandasi dan dijiwai dalam bentuk rohaniyah (batin) akan menumbuhkan keikhlasan. Beramal Ihsan yang ikhlas membuahkan taqwa yang merupakan buah tertinggi dari segala amal ibadah kita. Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat Ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasul dalam salah satu haditsnya. Pada akhirnya ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan maka ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.[11]
      Adapun landasan Syar’i ihsan yaitu:
وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٩٥)
Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah: 195)

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk berbuat adil dan kebaikan....”. (QS. An-Nahl :90)

IV. KESIMPULAN
Iman, Islam dan Ihsan  merupakan tiga serangkai yang tidak boleh terpisah dalam kerangka agama Islam sesuai dengan bunyi  tentang pengertian Iman, Islam dan Ihsan. Maksudnya kesempurnaan agama (Islam) terletak pada tiga sendi, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Seorang Islam dapat dikatakan sebagai muslim yang hakiki bila ia dapat mengumpulkan dalam dirinya ketiga sendi tersebut.
Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya Iman  dapat diketahui melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari Imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai Iman yang kuat, dan jika perbuatannya buruk maka dapat dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah. Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT. Misalnya: shalat, puasa, zakat dan haji.


[1]M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, ( Jakarta: Amzah, 2007), hlm.  1-2.
[2] Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 67-68.
[3] Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, hlm. 68-71.
[4] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm. 22
[5] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, hlm. 26
[6] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, penerj. Muhammad Rifa’i, (Semarang: Wicaksana, 1993), hlm. 10
[7] Dr. Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam dan Akhlak, penerj. Kamran As’at Irsyadi dan Ghazali, (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 246
[8] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim,hlm. 11-15
[9] H. Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: LPPI, 2007), hlm. 11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar