Kamis, 05 Juli 2012

FILSAFAT AL GHAZALI


       I.            PENDAHULUAN
Ketika filsafat Islam dibicarakan, maka terbayang disana hadir beberapa tokoh yang disebut sebagai filosof muslim seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, dan seterusnya. Kehadiran para tokoh ini memang tidak bisa dihindarkan, tidak saja karena dari merekalah kita dapat mengenal filsafat islam, akan tetapi juga karena pada mereka benih-benih filsafat Islam dikembangkan.
Dalam makalah ini, penulis hanya membatasi pemaparan mengenai Al-Ghazali, seorang ulama besar yang pemikirannya sangat berpengaruh terhadap Islam dan filsafat Dunia Timur. Beliau adalah seorang sufi sekaligus seorang teolog yang mendapat julukan Hujjah al- Islam. Pemikiran Al-Ghazali begitu beragam dan banyak,  mulai dari pikiran beliau dalam bidang teologi (kalam), tasawuf, dan filsafat. Dalam Hal ini akan dibahas tentang filsafat Al-Ghazali yang berkaitan dengan biografi, hasil karya, pemikirannya dan kritik terhadap filosof Muslim lainnya.

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.     Bagaimana Biografi dan Apa Saja Karya Al-Ghazali?
B.     Bagaimana Pemikiran Filsafat Al-Ghazali?
C.     Bagaimana Pandangan Al-Ghazali terhadap Filsafat?

 III.       PEMBAHASAN
A.     Biografi dan Karya Al Ghazali
1.      Biografi Al Ghazali
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-ghazali. Namanya kadang diucapkan Ghazzali (dua Z), artinya tukang pintal benang, Karena pekerjaan ayah al-Ghazali ialah tukang pintal benang wol. Sedangkan yang lazim ialah Ghazali (satu Z), diambil dari kata Ghazalah nama kampung kelahirannya.[1]
Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H/1058 M, di desa Thus, wilayah Khurasan, Iran. Dia adalah pemikir ulung Islam yang menyandang gelar “Pembela Islam” (hujjatul Islam).
Di masa mudanya ia belajar di Nisyapur, juga di Khurasan, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid Imam al-Haramain al-Juwaini, Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah, Nisyapur. Diantara mata pelajaran-mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini ialah: Teologi, Hukum Islam, Falsafat, Logika, Sufisme, dan Ilmu-ilmu Alam.[2]
Pada tahun 1091 M/ 484 H, al-Ghazali diangkat menjadi ustadz (dosen) pada Universitas Nizamiah, Baghdad. Atas prestasinya yang kian meningkat, pada usia 34 tahun al-Ghazali diangkat menjadi pimpinan (rektor) universitas tersebut.[3]
Hanya 4 tahun al-Ghazali menjadi rektor di Universitas Nizamiah. Setelah itu ia mulai mengalami krisis rohani, krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Kemudian ia meninggalkan semua jabatan dan dunianya untuk berkhalwat, ibadah dan i’tikaf selama hampir dua tahun di sebuah masjid di Damaskus yang dilanjutkan ke Baitul Maqdis, menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah saw. serta nabi Ibrahim as. Akhirnya, ia terlepas dari krisis tersebut dengan jalan tasawuf.
Setelah melanglang buana kurang lebih 10 tahun, atas desakan Fakhrul Muluk. Al-Ghazali kembali untuk mengajar di Universitas Nizamiah lagi.
Dalam usia 55 tahun al-Ghazali meninggal dunia di Thus pada 14 Jumadil akhir 550 H, 19 Desember 1111 M dengan dihadapi oleh saudara laki-lakinya Abu ahmad Mujjidduddin. Jenazahnya dimakamkan di sebelah timur benteng di makam Thaberran bersisian dengan makam penyair besar Firdausi.[4]
2.      Karya-karya Al-Ghazali
Menurut Musthafa Galab, Al-Ghazali telah meninggalkan tulisannya berupa buku dan karyanya sebanyak 228 kitab yang terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan yang terkenal pada masanya. Kitab-kitab tersebut diantaranya:
1.    Di Bidang Filsafat
a.  Maqashid al-Falasifat (The tendencies of the Philosophers: Tujuan Ilmu Filsafat). Berisi mengenai ringkasan ilmu-ilmu filsafat, dijelaskan juga ilmu-ilmu mantiq, metafisika dan ilmu alam.
b.  Tahafut al-falasifat (The distruction of the Philosophers: Kerancuan pemikiran para filosof). Berisi pertentangan (kontradiksi) yang ada dalam ajaran filsafat , serta dijelaskannya juga ketidaksesuaiannya dengan akal.
c.  Al-Ma’riful ‘Aqliyah (Ilmu Pengetahuan yang Rasional). Kitab ini mengungkap asal muasal ilmu-ilmu yang rasional dan kemdian hakikat apa yang dihasilkan serta ke arah mana tujuan pastinya.
2.    Di bidang Agama
a.    Ihya’ Ulumuddin (Revival of the Relegios Sceinces: Menghidup-hidupkan Ilmu Agama).
b.    Al-munqiz min al-Dhalal ( Terlepas dari kesesatan).
c.    Minhaj ul’Abidin (the Path of the Devout: Jalan Mengabdi Tuhan).
3.    Di bidang akhlak tasawuf
a.    Miezan ul ‘Amal (neraca amal).
b.    Kitab pendamping Ihya’ yang juga berisi akhlak dan tasawuf.
c.    Keimiya us Da’adah (kimianya kebahagiaan). Berisi masalah etika yang dibicarakan dari sudut pandang kepraktisannya dan hukum.
d.    Kitab ul Arba’ien (empat puluh prinsip agama). Berisi tentang soal-soal yang berhubungan dengan akhlak tasawuf.
e.    At-Tibrul Masbuk fi nashiehat el muluk(emas yang sudah ditatah untuk menasehati para penguasa). Berisi tata karma yang berhubungan dengan pemerintahan.
f.      Al-Mustashfa fil ushul (keterangan yang sudaah dipilih mengenai soal pokok-pokok ilmu hukum).
g.    Mishkat ul Anwar (lampu yang bersinar banyak). Berisi tentang kaitan akhlak dengan ilmu aqidah dan teologi.
h.    Ayyuhal Walad (wahai anakku !). Berisi nasehat kepada penguasa yang berhubungan dengan amal perbuatan dan tingkah polah mereka dalam kehidupan sehari-hari.
i.      Al-adab fi Dien(adab sopan keagamaan). Berisi perilaku manusia di dalam hubungannya dengan etika hidup manusia.
j.      Ar-Risalah al-Laduniyah (risalah tentang soal-soal batin). Berisi hubungan akhlak dengan masalah-masalah kerohanian termasuk didalamnya soal wahyu, kata hati dan sebagainya.
4.    Di bidang kenegaraan
a.    Mustazh hiri.
b.    Sir ul Alamain (rahasia dua dunia yang berbeda).
c.    Suluk us Sulthanah (cara menjalankan pemerintahan). Buku ini memberi tahu  pimpinan bagaimana seorang kepala Negara harus menjalankan pemerintahannya demi kesejahteraan rakyatnya.
d.    Nashihat et Muluk (nasehat untuk kepala-kepala negara).[5]
5.    Di bidang Fiqh dan Ushul Fiqh
a.    Asrar al-Hajj, dalam Fiqh al-Syafi’I, terbit di Mesir.
b.    Al-Mustasfa fi Ilmi al-Ushul, terbit berulang kali di Kairo.
c.    Al-Wajiz fi al-Furu’.[6]
B.     Pemikiran Fisafat Al-Ghazali
1.      Metafisika
Untuk pertama kalinya Al-Ghazali mempelajari karangan-karangan ahli filsafat terutama karangan Ibnu Sina. Setelah mempelajari filsafat dengan seksama, ia mengambil kesimpulan bahwa mempergunakan akal semata-mata dalam soal ketuhanan adalah seperti mempergunakan alat yang tidak mencukupi kebutuhan.
Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dhalal menjelaskan bahwa jika berbicara mengenai ketuhanan (metafisika), maka disinilah terdapat sebagian besar kesalahan mereka (para filosof) karena tidak dapat mengemukakan bukti-bukti menurut syarat-syarat yang telah mereka tetapkan sendiri dalam ilmu logika.
Al-Ghazali meneliti kerja para filsuf dengan metodenya yang rasional, yang mengandalkan akal untuk memperoleh pengetahuan yang meyakinkan. Dia pun menekuni bidang filsafat secara otodidak sampai menghasilkan beberapa karya yang mengangkatnya sebagai filsuf. Tetapi hasil kajian ini mengantarkannya kepada kesimpulan bahwa metode rasional para filsuf tidak bisa dipercaya untuk memberikan suatu pengetahuan yang meyakinkan tentang hakikat sesuatu di bidang metafisika (ilahiyyat) dan sebagian dari bidang fisika (thabi’iyat) yang berkenaan dengan akidah Islam. Meskipun demikian, Al-Ghazali tetap memberikan kepercayaan terhadap kesahihan filsafat-filsafat di bidang lain, seperti logika dan matematika.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa ada pemikiran tentang filsafat metafisika yang menurut al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan karenanya para filosof dinyatakan kafir. Hal ini akan lebih dijelaskan dalam bagian selanjutnya.
2.      Iradat Tuhan
Mengenai kejadian alam dan dunia, Al-Ghazali berpendapat bahwa dunia itu berasal dari iradat (kehendak) tuhan semat-mata, tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Iradat tuhan itulah yang diartikan penciptaan. Iradat itu menghasilkan ciptaan yang berganda, di satu pihak merupakan undang-undang, dan di lain pihak merupakan zarah-zarah (atom-atom) yang masih abstrak. Penyesuaian antara zarah-zarah yang abstrak dengan undang-undang itulah yang merupakan dunia dan kebiasaanya yang kita lihat ini.
Iradat tuhan adalah mutlak, bebas dari ikatan waktu dan ruang, tetapi dunia yang diciptakan itu seperti yang dapat ditangkap dan dikesankan pada akal (intelek) manusia, terbatas dalam pengertian ruang dan waktu. Al-Ghazali menganggap bahwa tuhan adalah transenden, tetapi kemauan iradatnya imanen di atas dunia ini, dan merupakan sebab hakiki dari segala kejadian.[7]
Pengikut Aristoteles, menamakan suatu peristiwa sebagai hukum pasti sebab dan akibat (hukum kausalitas), sedangkan Al-Ghazali seperti juga Al-Asy’ari berpendapat bahwa suatu peristiwa itu adalah iradat Tuhan, dan Tuhan tetap bekuasa mutlak untuk menyimpangkan dari kebiasaan-kebiasaan sebab dan akibat tersebut. Sebagai contoh, kertas tidak mesti terbakar oleh api, air tidak mesti membasahi kain. Semua ini hanya merupakan adat (kebiasaan) alam, bukan suatu kemestian. Terjadinya segala sesuatu di dunia ini karena kekuasaan dan kehendak Allah semata. Begitu juga dengan kasus tidak terbakarnya Nabi Ibrahim ketika dibakar dengan api. Mereka menganggap hal itu tidak mungkin, kecuali dengan menghilangkan sifat membakar dari api ituatau mengubah diri (zat) Nabi Ibrahim menjadi suatu materi yang tidak bisa terbakar oleh api.[8]
3.      Etika
Mengenai filsafat etika Al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam buku Ihya’ ‘Ulumuddin. Dengan kata lain, filsafat etika Al-Ghazali adalah teori tasawufnya itu. Mengenai tujuan pokok dari etika Al-Ghazali kita temui pada semboyan tasawuf yang terkenal “Al-Takhalluq Bi Akhlaqihi ‘Ala Thaqah al-Basyariyah, atau Al-Ishaf Bi Shifat al-Rahman ‘Ala Thaqah al-Basyariyah”. Maksudnya adalah agar manusia sejauh kesanggupannya meniru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti pengasih, pemaaf, dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, jujur, sabar, ikhlas dan sebagainya.
Sesuai dengan prinsip Islam, Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat (kebaikan) bagi sekalian alam. Berbeda dengan prinsip filsafat klasik Yunani yang menganggap bahwa Tuhan sebagai kebaikan yang tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia, dan menganggap materi sebagai pangkal keburukan sama sekali.
Al-Ghazali sesuai dengan prinsip Islam, mengakui bahwa kebaikan tersebar di mana-mana, juga dalam materi. Hanya pemakaiannya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan.
Bagi Al-Ghazali, taswuf bukanlah suatu hal yang berdiri sendiri terpisah dari syari’at, hal ini nampak dalam isi ajaran yang termuat dalam kitab Ihya’nya yang merupakan perpaduan harmonis antara fiqh, tasawuf dan ilmu kalam yang berarti kewajiban agama haruslah dilaksanakan guna mencapai tingkat kesempurnaan. Dalam melaksanakan haruslah dengan penuh rasa yakin dan pengertian tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya.[9]   
C.     Pandangan Al-Ghazali terhadap Filsafat
Di bidang filsafat al-Ghazali memiliki perhatian yang sangat besar dan ia tercatat sebagai pemikir yang banyak melibatkan diri pada segi itu. Ia belajar filsafat kepada al-Juwaini selama tiga tahun. Sehingga al-Ghazali dianggap juga sebagai salah seorang filosof muslim.[10] Namun, dalam lapangan filsafat ketuhanan (metafisika) al-Ghazali memandang para filosof sebagai ahl al-bid’at dan kafir seperti apa yang ada dalam bukunya Tahafut al-Falasifat (kerancuan pemikiran para filosof). Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut:
1.      Tuhan tidak mempunyai sifat.
2.      Tuhan mempunyai substansi basit (بسيط sederhana, simple) dan tidak mempunyai mahiah ( ماهية  hakekat, quiddity).
3.      Tuhan tidak mengetahui juz’iat (جزئيات perincian, particulars).
4.      Tuhan tidak dapat diberi sifat al-jins, (الجنسjenis, genus) dan al-fasl (الفصل          differentia).
5.      Planet-planet adalah binatang yang bergerak dengan kemauan.
6.      Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
7.      Hukum alam tak dapat berubah.
8.      Pembangkitan jasmani tidak ada.
9.      Alam ini tidak bemula.
10.  Alam ini kekal.[11]
Tiga dari kesepuluh pendapat diatas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran yaitu:
1.      Alam kekal dalam arti tidak bermula.
2.      Tuhan tidak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam.
3.      Pembangkitan jasmani tidak ada.
Yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1.      Alam kekal (Qadimnya Alam)
Filosof-filosof mengatakan bahwa alam ini qadim berdasarkan tiga argumen yaitu (1) Mustahil timbulnya yang baharu dari yang qadim. Proposi ini berlaku bagi sebab akibat, dengan arti, jika Allah qadim, maka terjadinya alam merupakan suatu keniscayaan dan hal ini akan menjadi qadim kedua-duanya (Allah dan alam). (2) Keterdahuluan wujud Allah dari alam hanya dari segi esensi (taqaddum zaty), sedangkan dari segi zaman (taqaddum zamany) antara keduanya adalah sama, seperti keterdahuluan bilangan satu dengan dua. (3) Alam sebelum wujudnya merupakan suatu yang mungkin. Kemungkinan ini tidak ada awalnya, dengan arti selalu abadi.[12] Sedangkan menurut Al-Ghazali yang qadim hanyalah Allah dan yang selain Allah adalah hadis (baharu). Allah dapat berbuat apapun tanpa ada yang menghalangi-Nya karena Allah menciptakan alam sesuai dengan kekuasaan dan kehendak-Nya.
2.      Tuhan tidak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam.
Para filosof Muslim, menurut Al-Ghazali berpendapat bahwa Allah hanya mengetahui zat-Nya dan tidak mengetahui yang selain-Nya (juz’iat) dengan alasan alam ini selalu terjadi perubahan-perubahan, jika Allah mengetahui rincian perubahan tersebut, hal itu akan membawa perubahan pada zat-Nya. Perubahan pada objek ilmu akan membawa perubahan pada yang punya ilmu (bertambah atau berkurang). Ini mustahil terjadi pada Allah.
Pendapat para filosof itu merupakan kesalahan fatal. Menurut Al-Ghazali lebih lanjut, perubahan pada objek ilmu tidak membawa perubahan pada ilmu. Karena ilmu adalah suatu tambahan, atau pertalian dengan zat, artinya lain daripada zat. Sehingga jika terjadi perubahan pada tambahan tersebut, maka zat Tuhan tetap dalam keadaannya yang biasa, sebagaimana halnya kalau ada orang berdiri di sebelah kanan kita, kemudian ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka yang berubah sebenarnya dia, bukan kita.[13] 
3.      Pembangkitan jasmani tidak ada.
Menurut para filosof Muslim, yang akan dibangkitkan di akhirat nanti adalah rohani saja, sedangkan jasmani akan hancur. Jadi yang akan merasakan kebahagiaan atau kepedihan adalah rohani saja.
Al-Ghazali dalam menyanggah pendapat para filosof tersebut lebih banyak bersandar pada arti tekstual Al-Qur’an, yang menurutnya tidak ada alasan untuk menolak terjadinya kebahagiaan atau kesengsaraan fisik dan rohani secara bersamaan. Allah Mahakuasa menciptakan segala sesuatu dan untuk itu tidaklah ada keraguan sedikitpun Allah akan mengembalikan rohani pada jasmani  di akhirat nanti.
Sebenarnya dalam ajaran agama Islam informasi kebangkitan akhirat ada yang disebutkan dengan jasmani dan rohani dan ada pula yang disebutkan rohani saja. Para filosof Muslim lebih menerima dalam bentuk rohani saja, sebab mereka dalam memahami nash lebih cenderung pada arti metafora, dan kalau akhirat lawan dari dunia yang berbentuk materi berarti akhirat bentuk rohani saja. Jadi, arti surga bagi mereka adalah kesenangan bukan berbentuk jasmani (materi), sedangkan arti neraka (api yang bernyala), bagi mereka adalah kesengsaraan.[14]

Sebenarnya antara Al-Ghazali dengan para filosof Muslim hanya bertentangan dari segi pendekatan dan pemaknaan serta penjabaran konsep saja, bukan esensi dari segala sesuatu, artinya hakekatnya mereka mengakui apa-apa yang tersirat dalam sumber utama (wahyu) sedang pemaknaan atau cara menterjemahkannya tergantung pada manusia.
Al-Ghazali pada dasarnya tidak ingin menjatuhkan para filosof Muslim, melainkan mewaspadai jangan sampai pola fikir filosofik yang bersifat khusus berkembang secara umum, karena orang awam belum tentu dapat memahaminya.
Oleh karena itu, Al-Ghazali menurut Harun Nasution membagi tingkatan berfikir manusia menjadi tiga macam:
1.      Kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali.
2.      Kaum pilihan (الخواص  ,elect) yang akalnya tajam dan berfikir secara mendalam.
3.      Kaum menengkar (اهل الجدل).[15]
Dari klasifikasi tersebut, dapat ditarik suatu garis horizontal bahwa Al-Ghazali menempatkan para filosof pada kelompok kedua atau ketiga dengan pola berfikir mereka yang khas. Berarti pemikiran filsafat harus dikembangkan di kalangan filosof. Hal ini sejalan dengan ide para filosof muslim khususnya Al-Farabi yang menginginkan agar filsafat tidak dibocorkan terhadap golongan awam, karena tingkat berfikir mereka yang berbeda. Termasuk di dalamnya masalah metafisika dan teologi yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa filsafat bagi orang awam. Begitu pula sebaliknya, untuk berbicara dengan filosof maka harus dengan bahasa filsafat. Al-Ghazali sendiri menurut Syekh Sulaiman Dunya dari al-Azhar, cairo memberikan keterangan-keterangan dengan cara yang berlainan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Inilah salah satu alasan munculnya tahafut al-falasifat sebagai cara tersendiri dalam menghadapi para filosof dengan bahasa filsafat. Dengan demikian Al-Ghazali tidaklah berbeda dengan filosof, bahkan ia adalah filosof.


[1] Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 9.
[2] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hlm. 41.
[3] Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit.,hlm. 11.
[4] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang: CV Toha Putra, 1993), hlm. 63.
[5] Ibid., hlm. 58-62
[6] M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu TinjauanPsikologik Pedagogik, (Yogyakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), hlm. 31.
[7] Poerwantana, dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, (Bandung: CV ROSDA, 1988), hlm. 172.
[8] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 176.
[9] M. Amin Abdullah, Studi Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm.280.
[10]M. Bahri Ghazali, Op. Cit., hlm.58.
[11] Harun Nasution, Op. Cit., hlm. 44-45.
[12] Sirajuddin Zar, Op. Cit., hlm.164-166.
[13] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 149.
[14] Sirajuddin Zar, Op. Cit., hlm. 174.
[15]Harun Nasution, Op. Cit., hlm. 45.

Selasa, 29 Mei 2012

KARYAWISATA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN


I.          PENDAHULUAN
Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi dari segala aspek. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki sejumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga di manapun ia berada dapat digunakan (siap pakai) setiap saat.
Namun dalam proses belajar-mengajar di sekolah, siswa tidak hanya belajar di kelas dan perlu diajak keluar sekolah untuk meninjau tempat tertentu. Hal itu bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya, maka perlu diadakan strategi baru yang memanfaatkan media karyawisata dalam proses pembelajaran.

II.          RUMUSAN MASALAH
1.    Apa Pengertian Media Karyawisata ?
2.    Bagaimana Cara Pemanfaatan Karyawisata Sebagai Media Pembelajaran?
3.     Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Karyawisata Sebagai Media Pembelajaran ?

III.          PEMBAHASAN
A.                   Pengertian Media Karyawisata
        Pengertian media, sebagaimana yang telah kita ketahui adalah merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.[1] Gerlach dan Ely ( 1971 ) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.[2] Sedangkan kata karyawisata berasal dari karya yang artinya kerja dan wisata yang berarti pergi. Dengan demikian, karya wisata berarti pergi bekerja atau bepergian ke suatu tempat untuk bekerja. Di dalam hubunganya dengan kegiatan belajar mengajar, pengertian karya wisata ialah bahwa murid-murid akan mempelajari sebuah obyek di suatu tempat di mana obyek itu berada. Dengan demikian, apa yang disebut bekerja sebenarnya yang dimaksud ialah mempelajari sesuatu.[3]
        Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media karya wisata adalah instrumen atau wahana penyalur suatu informasi belajar atau penyalur pesan dengan bepergian ke sebuah obyek  untuk dipelajari di suatu tempat di mana obyek itu berada.
Penggunaan media ini berdasarkan alasan-alasan pertimbangan dimana guru yang bersangkutan harus lebih mengetahuinya. Pada umumnya, alasan pemakaian media ini ialah karena obyek yang akan dipelajari tidak dapat dibawa ke dalam kelas dan hanya dapat dipelajari di tempat dimana obyek itu berada. Sebab-sebabnya adalah antara lain:
1.      Obyeknya terlalu besar
Misalnya di dekat sekolah sedang diadakan perbaikan jalan dimana digunakan sebuah mesin giling. Tentunya mesin giling ini tidak akan dapat dibawa ke dalam kelas karena terlampau besar.
2.      Obyeknya akan mengalami perubahan atau kerusakan jika dipindahkan dari tempatnya
Misalnya dalam Ilmu Pengetahuan Alam dimana guru akan mengajarkan dan memperlihatkan tanaman yang dinamakan “Putri Malu”. Tanaman ini jika tersentuh sedikit saja akan segera menutup dan mengatup daun-daunnya sehingga tidak dapat lagi dilihat bagaimana tanaman itu sesungguhnya jika daun-daunnya masih terbuka.
3.      Obyeknya terlampau berat
Hal ini sama dengan yang diuraikan dalam contoh pertama yaitu mengenai mesin giling. Karena beratnya tentu saja mesin giling itu tidak akan dapat diminta untuk dimasukan ke halaman sekolah karena halaman akan rusak.
4.      Obyeknya berbahaya jika dibawa ke kelas
Misalnya guru akan menjelaskan jenis-jenis binatang buas. Tentunya guru tidak akan dapat membawa harimau dan singa ke kelas, karena seandainya hal itu dapat dilakukan, tetap faktor keamanannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
5.      Obyeknya hanya terdapat di suatu tempat tertentu.
Misalnya pada suatu ketika diberi tahukan dalam surat kabar bahwa di Kebun Raya Bogor telah berkembang apa yang disebut Bunga Bangkai Raksasa. Bunga itu tidak dapat dan tentu tidak boleh diangkut ke tempat lain. Oleh karena itu, jika guru bermaksud memperkenalkan bunga raksasa tersebut kepada murid-murid, maka jalan satu-satunya ialah berkaryawisata.[4]
               Obyek wisata harus relevan dengan bahan pengajaran, misalnya museum untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, taman mini untuk pelajaran ilmu bumi dan kebudayaan, peneropongan bintang di Lembang untuk pelajaran fisika dan astronomi. Karyawisata disamping untuk kegiatan belajar sekaligus juga rekreasi yang mengandung nilai edukatif. Karyawisata sebaiknya dilakukan pada akhir semester atau caturwulan dan dikaitkan dengan keperluan pengajaran dan nerbagai bidang studi secara bersama-sama dan dibimbing oleh guru bidang studi yang bersangkut.[5]

B.                   Pemanfaatan Karya Wisata sebagai Media Pembelajaran.
Dalam pemanfaatan media karya wisata dalam proses pembelajaran siswa, seorang guru perlu menetapkan teknik-teknik meneliti  atau mempelajari obyek yang akan dikunjungi. Teknik-teknik yang umumnya digunakan ialah:
1.    Observasi
Meneliti atau mempelajari suatu obyek melelui observasi merupakan tahapan yang paling penting dalam keseluruhan proses belajar selama suatu karya wisata dilakukan. Sesungguhnya teknik observasi merupakan cara pemahaman yang paling alamiyah (wajar) dalam usaha memperoleh informasi mengenai obyek-obyek dan kejadian-kejadian kehidupan yang riil.
2.    Wawancara
Dalam mengamati suatu obyek, sering tidak cukup memberikan kejelasan yang memuaskan si pengamat. Hal itu mungkin saja timbul karena memang tidak memahami apa yang sedang diamati atau karena penjelasan yang diberikan tidak cukup menjelaskan obyeknya. Ketidakjelasan mengenai apa yang sedang diterangkan mungkin disebabkan karena obyeknya terlalu asing. Untuk memperoleh kejelasan yang dalam bagian-bagian tertentu, perlu kiranya teknik wawancara ini.
3.    Diskusi
Diskusi merupakan penyempurna dari penggunaan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Melalui diskusi yang dapat dilakukan di tempat obyek atau di suatu ruangan yang telah diatur di tempat obyek, guru, murid-murid, dan para ahli yang berasal dari obyek yang sedang dikunjungi dapat membuka suatu diskusi guna mematangkan, memperjelas segala sesuatu yang telah diamati murid-murid selama karya wisata dilakukan.[6]
Agar penggunaan media karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Masa persiapan guru perlu menetapkan:
a.    Perumusan tujuan instruksional yang jelas
b.    Pertimbangan pemilihan media ini
c.    Keperluan menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya
d.   Penyusunan perencanaan yang masak, membagi tugas-tugas dan menyiapkan sarana
e.    Pembagian siswa dalam kelompok dan mengirim utusan.
2.    Masa pelaksanaan karya wisata:
a.         Pemimpin rombongan mengatur segalanya yang dibantu petugas-petugas lainnya
b.         Memenuhi tatatertib yang telah ditentukan bersama
c.         Mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, dan tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggungjawabnya
d.        Memberi petujuk bila perlu.
3.    Masa kembali dari karya wisata:
a.         Mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil dari karya wisata itu
b.                       Menyusun laporan, atau paper atau kesimpulan yang diperoleh
c.         Tindak lanjut dari hasil kegiatan karya wisata seperti; grafik, gambar, model-model, diagram, dan sebagainya.[7]
C.                   Kelebihan dan Kekurangan Karya Wisata sebagai Media Pembelajaran
1.    Diantara kelebihan karya wisata sebagai media pembelajaran yaitu:
a.    Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang  dilakukan oleh para petugas pada obyek wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak diperoleh di sekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau keterampilan mereka.
b.    Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas yang berada di obyek itu secara individu maupun secara kelompok dan menghayati secara langsung, yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka.
c.    Dalam kesempatan ini, siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya atau mencobakan teorinya ke dalam praktek.
d.   Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah, dan terpadu.[8]
e.    Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
f.     Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
g.    Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat.
h.    Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan dan mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.
i.      Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab obyek yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti dari aspek sosial, lingkungan alam, dan lain-lain.
j.       Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.[9]
2.    Kekurangan media karya wisata diantaranya yaitu:
a.    Pada umumnya akan mengambil waktu jam pelajaran untuk mata pelajaran lainya. Dengan kata lain, akan menghabiskan waktu yang agak banyak. Padahal, jadwal pelajaran sudah ditetapkan sehingga dengan demikian mata-mata pelajaran lainya akan dirugikan.
b.    Mengajar murid-murid dialam terbuka lebih sukar dibandingkan dengan dikelas. Perhatian murid-murid lebih terpengaruh oleh situasi disekitar obyek sehingga pemusatan perhatian pada waktu observasi dilakukan memerlukan pengawasan yang ketat dari Guru
c.    Sukar memegang ketertiban dan disiplin mengingat bahwa murid-murid lebih bebas bergerak kesana kemari. Lain halnya dengan dikelas dimana murid-murid duduk dibangku atau dikursinya.
d.   Kemungkinan terjadinya kecelakaan lebih banyak mengingat  bahwa murid-murid lebih bebas bergerak dan berkeliaran.
e.    Adnya tambahan pengeluaran berupa uang baik dari Guru maupun murid-murid, misalnya untuk membeli perbekalan makanan dan minuman.
f.     Pada umumnya murid-murid tetap berpendapat bahwa karya wisata sama dengan berdarma wisata atau piknik. Keinginan berekreasi lebih menonjol dari pada hasrat untuk mempelajari, menyelidiki, meneliti objek yang akan dikunjungi.[10]
Maka dari itu, sebagai media pembelajaran, karya wisata yang dilaksanakan perlu dioptimalkan dengan memperhatikan hal-hal yang telah direncanakan sebelumnya.
IV.          ANALISIS
Berdasarkan uraian pembahasan diatas, dapat di analisis bahwa karya wisata berperan penting sebagai media dalam proses pembelajaran siswa yang bertujuan agar dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan seseorang, serta dapat mencoba dan meneliti apa yang dihadapinya. Dan dalam proses berkarya wisata tentunya harus mempersiapkan perlengkapan keperluan belajar. Keperluan perlengkapan siswa harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar belajar dengan menggunakan media karya wisata ini betul-betul berhasil.
Di sisi lain, guru perlu memberitahukan dan memberi petunjuk mengenai apa yang harus diobservasi dan bagaiman cara mengobservasinya. Hal ini mengingat bahwa setiap murid akan berbeda selera dan pusat perhartiannya, dan seperti ini dapat dicoba misalnya mengajak beberapa murid berjalan-jalan melalui sejejeran toko-toko. Sepulang dari berjalan-jalan itu dan jika ditanyakan apa yang telah mereka lihat dari toko-toko tersebut maka akan ditemukan bahwa setiap anak tertarik pada obyek-obyek tertentu yang mereka lihat hingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada yang meluihat sesuatu obyek tertentu dan ada yang tidak melihatnya walaupun letak obyek itu sangat jelas di beberapa toko yang berjejeran tersebut. Sedangkan murid yang sama sekali  tidak tertarik perhatiannya pada barang-barang yang ada di toko-toko itu, ternyata tidak dapat menceritakan benda-benda yang telah dilihat mereka.
Guru yang berinisiatif dan kreatif dengan mudah dapat melihat obyek atau kejadian di alam sekitarnya untuk dijadikan bahan karya wisata. Misalnya, sebuah kali atau sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari sekolah dapat dijadikan obyek karya wisata. Guru membawa murid-murid ke kali itu dan mengobservasi bagaimana air sungai mengalir, bagaimana warna airnya, adakah ikannya, tumbuh-tumbuhan apa yang tumbuh di tepi kali itu, untuk keprluan apa kali itu dan seterusnya.
Mengingat bahwa setiap media pembelajaran memang memiliki kebaikan dan kelemahan-kelemahannya. Tetapi ini tidak berarti bahwa media ini jangan dipergunakan. Media ini sangat bermanfaat bila sebelumnya dipersiapkan dengan cermat dan baik oleh guru.
Sebaiknya demi kelancaran karyawisata yang akan dilakukan, guru menghubungi orang-orang yang berada di obyek yang dikunjungi, seperti kepala dan pemimpinnya, saat bermanfaat bagi kelancaran jalannya karyawisata. Dapat pula orang tua murid diminta bantuannya sehingga karyawisata dapat dilakukan dengan biaya-biaya yang relatif murah karena ada fasilitas yang disediakan berkat bantuan orang tua murid yang kebetulan bekerja atau menjadi pimpinan suatu obyek karyawisata yang dikunjungi.

    V.            KESIMPULAN
Media karya wisata adalah instrumen atau wahana penyalur suatu informasi belajar atau penyalur pesan dengan bepergian ke sebuah obyek  untuk dipelajari di suatu tempat di mana obyek itu berada. Dan sebab-sebab penggunaan media karyawisata antara lain:
1.      Obyeknya terlalu besar
2.      Obyeknya akan mengalami perubahan atau kerusakan jika dipindahkan dari tempatnya
3.      Obyeknya terlampau berat
4.      Obyeknya berbahaya jika dibawa ke kelas
5.      Obyeknya hanya terdapat di suatu tempat tertentu
Sedangkan Teknik-teknik yang umumnya digunakan dalam karyawisata  ialah: Observasi, wawancara, diskusi. Dan adapun langkah-langkah yang perlu dalam proses berkaryawisata antara lain: Masa persiapan guru sebelum karyawisats, masa pelaksanaan karyawisata, dan masa kembali dari karya wisata.
Kelebihan karyawisata sebagai media pembelajaran yaitu diantara:
1.      Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang  dilakukan oleh para petugas pada obyek wisata itu
2.      Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam
3.      Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas yang berada di obyek itu
Kelemahan-kelemahan  karyawisata yang digunakan sebagai media pembelajaran diantaranya:
1.      Akan menghabiskan waktu yang agak banyak
2.      Mengajar murid-murid dialam terbuka lebih sukar dibandingkan dengan dikelas
3.      Sukar memegang ketertiban dan disiplin mengingat bahwa murid-murid lebih bebas bergerak kesana kemari



 VI.            PENUTUP
Demikian makalah mengenai media karya waisata yang dapat saya buat.  tentunya tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Maka, dengan demikian saya mengharapkan saran yang konstruktif demi penyempurnaan dalam penulisan makalah berikutnya.













                                                DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003
Bahri, Syaiful, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT  Rineka cipta, 2010
Djajadisastra, Jusuf, Metode-Metode Mengajar, Bandung: Angkasa, 1982
Rivai, Ahmad, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algensindo,2010
Roestiyah, N.K., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2008





[1] Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT  Rineka cipta, 2010), hlm. 120
[2] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 3
[3] Jusuf Djajadisastra, Metode-metode Mengajar, (Bandung: Angkasa, 1982), hlm. 34
[4] Ibid , hlm. 10
[5] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1997), cet, 3,  hlm. 210
[6] Jusuf Djajadisastra, Op. Cit., hlm. 15
[7]  Roestiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 85-87
[8] Ibid, hlm. 85-87
[9] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,2010), cet. 9, hlm. 208
[10] Jusuf Djajadisastra, Op. Cit., hlm. 34